Belajar dari Malaysia
Orang bijak pernah berkata bahwa selalu ada hikmah di balik semua kejadian yang terjadi. Di kebudayaan Barat terkenal ungkapan “blessing in disguise”, yang artinya kurang lebih sama, yaitu ada hal baik yang terjadi di balik kemalangan. Saya kurang lebih setuju dengan ungkapan tersebut, khususnya tentang negara kita, Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu, tetangga serumpun kita, Malaysia, mengakui beberapa kebudayaan milik Indonesia seperti lagu “Rasa Sayange”, Tari pindik (asal Bali) dll menjadi milik Malaysia. Sebagai warga negara Indonesia, tentu saja kita marah atas perbuatan Malaysia yang tidak sopan tersebut. Bahkan sampai ada gerakan sentimen anti Malaysia. Tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana kebencian masyarakat Indonesia atas perlakuan Malaysia serta mengapa Malasysia mengambil beberapa kebudayaan milik kita, tetapi tulisan ini akan mengajak kita untuk berpikir tentang diri kita sendiri, atau kurang lebih berkaca, sebagai seorang warga Indonesia.
Sudah saya jelaskan di atas, bahwa setiap kejadia pasti mempunyai hikmah. Lalu apa hikmah yang didapat dari perlakuan Malaysia tersebut? Sebenarnya kita bisa mengambil beberapa hikmah, asalkan kita tahu bagaimana harus bersikap. Tentu saja dengan kepala dingin dan berpikir masak-masak, janganlah kalian bertindak anarki. Hikmah yang bisa didapat antara lain persatuan Indonesia, melek budaya bangsa dan bercermin sendiri.
Persatuan Indonesia. Mungkin kalian merasa bahwa semenjak Malaysia bersikap kurang ajar, banyak masyarakat Indonesia yang “mendadak” menjadi sentimen terhadap Malaysia. Dengan begitu, maka masyarakat Indonesia semakin bersatu, karena masyarakat Indonesia merasa bahwa mereka mempunyai “musuh” bersama, yang hobinya mengambil kebudayaan milik bangsa Indonesia, yaitu Malaysia. Karena Malasia maka rasa nasionalisme & persatuan Indonesia meingkat (walapun mungkin hanya sesat saja).
Sejarah membuktikan bahwa jika beberapa kaum mempunyai musuh bersama maka mereka bisa menjadi sekutu. Perang Dunia 2 (1939-1945) membuktikan hal tersebut. Demi menghalau kekejaman Nazi, maka Amerika Serikat dan Rusia bisa bersatu dan menggempur Jerman secara bersamaan, dengan AS dari sebelah Barat dan Rusia dari sebelah Timur. Walapun setelahnya mereka mengalami perang dingin, tetapi setidaknya mereka sempat “berkoalisi” karena mereka mempunyai mush bersama pada Perang Dunia 2, meski ada politik kepentingan yang menyertai aksi mereka.
Coba kalian perhatikan, ada berapa kebudayaan Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia? Semenjak kejadian tersebut kini banyak orang Indonesia yang lebih peduli terhadap kebudayaan Indonesia sendiri, atau jika masih belum teralu peduli setidaknya mereka mulai mengenal dan tahu ada apa saja di kebudayaan bangsanya sendiri. Mata kita semakin terbuka, bahwa ternyata Indonesia mempunyai begitu banyak kebudayaan yang sangat berharga. Kebudayaan itu berasal dari para leluhur kita, oleh karena itu amatlah disayangkan jika kebudayaan yang merupakan peninggalan berharga dari para leluhur kita tiba-tiba diakui oleh suatu bangsa di negeri seberang. Seharusnya kita sebagai penerus bangsa Indonesia mencoba untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Setidaknya mencoba untuk menghargai kebudayaan milik kita sendiri, salah satu caranya ialah dengan lebih mengenal kebudayaan milik kita.
Selanjutnya bagian yang terakhir. Bagian ini merupakan bagian yang paling tidak enak, karena pada bagian ini kita “dipaksa” untuk menjilat borok kita sendiri. Kita tahu, Malaysia bukan pertama kali ini mengambil salah satu kebudayaan kita, lalu mengapa kita masih diam saja? Tidak ada tindakan preventif dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Seperti biasa, kita baru berkoar-koar saat kasus pencurian kebudayaan itu sedang marak-maraknya. Tapi coba perhatikan, selang beberapa bulan dari sekarang mungkin kita sudah lupa tentang kasus kemarin. Kita baru berkoar-koar lagi, seperti pahlawan kesiangan, saat ada kebudayaan kita yang dicuri lagi. Sudah terlambat kawan!!! Mengapa kita masih lebih senang “mengobati” daripada “mencegah”? Tidak bisakah kita belajar dari sejarah? Alangkah sangat baiknya jika belaara dari kesalahan dan mencoba melakukan tindakan priventif.
Seharusnya setelah peristiwa pencurian kebudayaan ini terjadi beberapa kali, pemerintah bekerja sama dengan masyarakat (khususnya mereka yang berkecimpung di bidang seni dan budaya) mencoba untuk mematenkan semua kebudayaan milik Indonesia, agar nantinya tidak ada lagi kebudayaan kita yang dicuri. Kita harus merubah pola berpikir kita, sehingga menjadi “mencegah” lebih baik daripada “mengobati”, dengan begitu maka kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Sehingga pada akhirnya slogan Malaysia yang berbunyi “Truly Asia” akan bertambah menjadi “Truly Asia (exclude Indonesian culture)”
Semoga nanti pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia bisa lebih peduli dalam melestarikan dan menghargai berbagai kebudayaan Indonesia.
Senin, 07 September 2009
Sekali Lagi
Sekali Lagi
Kantuk mulai menyerang dirinya. Ia pun melangkahkan kaki tuanya dengan lemah menuju ke tempat tidur. Sesampai di kamar ia pandangi ranjang tidurnya, ada yang hilang semenjak ia bercerai 34 tahun yang lalu. Semenjak itu ia selalu tidur sendiri di ranjang tersebut. Tidak sudi ia membawa wanita lain tidur di ranjang itu. Ia sudah hampir lupa bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang wanita yang dicintainya sebelum tidur, mungkin juga karena pria tersebut sudah mulai pikun. Pria itu pun berdiam sejenak, dalam hati ia bersumpah bahwa ia rela menukar segalanya demi merasakan rasa itu lagi, sebelum ia dipanggil menghadap-Nya. Harta yang dimilikinya seaka tak ada artinya Karena ia merasa bahwa saatnya sudah semakin dekat. Kembali ia memandang foto istrinya di meja samping tempat tidurnya, mengingat kembali segala kenangan yang telah berlalu. Hal itu hanya menambah pedih hatinya.
Ia masih ingat benar hari itu, hari dimana istrinya memutuskan untuk meninggalkannya. Saat itu usianya 44 tahun, sementara istrinya 42 tahun. Ya, ia memang mengaku salah, karena ia ketahuan bermain dengan wanita lain. Ia tergoda oleh rayuan dari salah satu pegawainya. Pegawainya itu memang masih muda, dengan badan yang masih kencang dan menggoda. Walaupun begitu, hanya sekali ia selingkuh. Sayang, tidak ada kesempatan kedua baginya.
Pada awalnya ia pun berpikir bahwa ia tidak akan merasa kehilangan pelukan istrinya, karena ia bisa dengan mudah mendapatkannya dari wanita lain. Ternyata ia salah. Oleh karena itulah setelah bercerai, ia merasa sangat menderita. Karena harus ia akui, sepanjang hidupnya, tidak ada wanita lain yang mampu memberikan dirinya ketenangan seperti yang diberikan oleh istrinya. Rasa ketika istrinya memeluknya saat hendak tidur dan menyandarkan kepalanya di bahu dadanya. Saat itulah ia merasa tenang dan lengkap sebagai seorang pria. Suatu rasa yang tidak mampu diberikan wanita lain. Ia sudah hampir putus asa karenanya, berpikir bahwa ia akan mati dalam kesepian, tanpa adanya perasaan seperti itu lagi.
Pagi saat ia bangun tidur. Sebelum ia berangkat menuju ke kantor perusahaan miliknya, salah satu ajudannya memberikan telepon. Ternyata anak bungsunya yang menelpon. Undangan pernikahan. Ternyata pernikahan dari putra bungsunya. Ia hanya tersenyum, putranya ini menikah cukup terlambat, baru menikah di usia ke 35. Putra bungsunya memang yang paling dekat dengannya. Entah kenapa, mungkin karena saat bercerai putranya ini baru berusia 1 tahun, sehingga ia merasa bahwa putranya ini masih membutuhkan kehadiran dirinya. Ia pun selalu meluangkan waktunya untuk bisa bersama dengan putra bungsunya tersebut. Hingga kini hubungan mereka sangatlah akrab, jauh lebih akrab dari hubungannya dengan kedua anak lainnya. Sehingga saat pernikahan kedua anaknya yang lain, ia tidak diundang. Dilihatnya tanggal di undangan tersebut, masih seminggu lagi, bertempat di kota kelahiran istrinya, kota dimana ia pertama kali bertemu dengan istrinya, kota yang juga menjadi tempat pernikahan mereka berdua. Ia sendiri tidak berasal dari kota yang sama dengan istrinya, ia hanya kuliah selama 4 tahun di kota tersebut. Tetapi kota itu menyimpan segala kenangan terindahnya. Ia tidak mengerti apa kehendak Tuhan kali ini.
Seminggu kemudian, pria itu berdiri di depan gedung pernikahan anaknya. Hatinya berkecamuk. Bagaimana tidak? Anak kesayangannya menikah di gedung yang sama dengan dirinya. Gemetar kakinya saat melangkah masuk ke gedung itu. Karena segala kenangan dengan istrinya, atau karena dirinya sudah begitu tua?
Sewaktu hendak melangsungkan pernikahan dengan istrinya, ia menyerahkan segala persiapan kepada istrinya. Ia pun hanya tertawa ketika istrinya memilih untuk menikah di gedung tua peninggalan belanda tersebut. Tetapi istrinya mempunyai alasan lain, katanya itu tempat dimana mereka pertama kali bertemu. Memang di gedung tua tersebut sering diadakan konser musik klasik. Mereka berdua tertarik akan musik klasik. Satu-satunya hal yang menarik perhatian mereka berdua. Karena antara ia dan istrinya sangatlah bertolak belakang dari berbagai hal. 10 tahun mereka berpacaran, gedung itu sering mereka kunjungi. Ketika mereka sudah lulus kuliah dan bekerja di kota lain, gedung itu juga selalu dikunjungi jika mereka berada di kota tersebut. Sehingga gedung itu sangatlah berarti bagi mereka berdua.
Saat bertemu dengan istrinya, hatinya begitu kalut tak karuan. Perasaan yang sama seperti ketika ia pertama kali melihat wanita tersebut di gedung ini. Tak mampu ia berkata banyak saat berhadapan kali ini. Ternyata hatinya begitu merindukan wanita tersebut. Air mata mengalir pelan di pipinya. Buru-buru ia permisi dan melangkah ke kamar mandi. Jantungnya berdegup terlalu kencang, ia pun susah bernapas. Kepalanya sakit sekali. Dunia seakan berputar-putar. Terbatuk-batuk ia. Ternyata batuknya berdarah. Segera diminum obat-obatan miliknya langsung dari botol. Pil-pil tersebut seakan menggelinding dari botol menuju tenggorokannya. Sialan, ia mengumpat. Susah sekali berumur 78 tahun dengan segala penyakit yang menyertainya.
Sekembali dari kamar mandi, kini ia sudah jauh lebih tenang. Walau begitu jantungnya masih berdegup kencang saat berbincang-bincang dengan istrinya. Istrinya tidak menikah lagi semenjak mereka berpisah. Suatu hal yang tidak bisa ia percayai. Di usianya yang senja ini istrinya masih terlihat cantik. Walau istrinya telah berumur 76 tahun, tetap saja istrinya mampu mencuri segala perhatiannya. Ia selalu rindu akan sorot mata dan suara istrinya, yang selalu menenangkan dirinya.
Saat ini resepsi perikahan anaknya telah selesai. Jam di arlojinya menunjukkan pukul 22.05. Ia hanya tersenyum. Hari ini semakin mendekati akhirnya, seperti hidupnya, begitu pikir pria tersebut. Ia tidak rela jauh-jauh datang kesini tanpa mendapatkan mimpinya. Maka ia pun menghampiri istrinya, dengan didorong satu harapan terakhir. Jantungnya berdegup semakin kencang, terlalu kencang.
Ia tidak percaya. Ia terbangun di rumah sakit. Di sebelahnya duduk istrinya dengan mata sembab, karena terlalu banyak menangis. Istrinya mengatakan bahwa ia terkena serangan jantung di pernikahan anaknya tadi. ia mengatakan bahwa keluarganya menunggu di luar kamar. Di kamar tersebut hanya ada mereka mereka berdua. Ia tersadar, bahwa istrinya menemani dirinya di akhir hidupnya.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang perlu diungkapkan. Mereka berdua sudah tahu bagaimana perasaan masng-masing. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Berdua hanyut dalam perasaan rindu. Tangannya menggenggam tangan istrinya. Degup jantung pria itu semakin lemah. Ia sampai harus memicingkan matanya. Napasnya mulai jarang. Kepalannya mulai ringan. Tangannya merogoh-rogoh kantung celananya, tetapi ia tidak menemukan yang ia cari. Saat itulah ia sadar akan 2 hal, bahwa ia tidak membawa obat-obatan tersebut serta hidupnya akan segera berakhir. Istrinya pun segera bangkit dari tempat duduk, ia ingin memanggil dokter. Tetapi pria itu melarangnya. Ia mengatakan bahwa semua yang dibutuhkan dirinya adalah kehadiran istrinya. Maka ia pun mengutarakan mimpinya kepada istrinya, bahwa ia ingin merasakan rasa yang telah lama hilang. Ia ingin istrinya memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dadanya sebelum tidur sekali lagi.
Kini istrinya telah berada di sampingnya. Istrinya telah naik ke ranjang. Kepalanya mulai ringan. Denyut jantungnya semakin lemah. Ia meminta agar istrinya jangan pergi, tetap berada di sampingnya, Samar-samar ia mendengar istrinya menangis. Ia pun merasakan bagaimana air mata istrinya membasahi dadanya serta bagaimana istrinya terisak-isak. Pria itupun berusaha mengucapkan sesuatu, dengan pelan. Ia meminta maaf. Wanita itu merasa menyesal. Mengapa ia tidak memaafkannya saja dari dulu. 34 tahun terbuang percuma. Sementara itu pandangan pria tersebut semakin gelap. Hingga akhirnya hanya kegelapan yang dilihatnya. Akhirnya, sekali lagi. Ia merasakan istrinya memeluknya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Pria itu hanya tersenyum.
Kantuk mulai menyerang dirinya. Ia pun melangkahkan kaki tuanya dengan lemah menuju ke tempat tidur. Sesampai di kamar ia pandangi ranjang tidurnya, ada yang hilang semenjak ia bercerai 34 tahun yang lalu. Semenjak itu ia selalu tidur sendiri di ranjang tersebut. Tidak sudi ia membawa wanita lain tidur di ranjang itu. Ia sudah hampir lupa bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang wanita yang dicintainya sebelum tidur, mungkin juga karena pria tersebut sudah mulai pikun. Pria itu pun berdiam sejenak, dalam hati ia bersumpah bahwa ia rela menukar segalanya demi merasakan rasa itu lagi, sebelum ia dipanggil menghadap-Nya. Harta yang dimilikinya seaka tak ada artinya Karena ia merasa bahwa saatnya sudah semakin dekat. Kembali ia memandang foto istrinya di meja samping tempat tidurnya, mengingat kembali segala kenangan yang telah berlalu. Hal itu hanya menambah pedih hatinya.
Ia masih ingat benar hari itu, hari dimana istrinya memutuskan untuk meninggalkannya. Saat itu usianya 44 tahun, sementara istrinya 42 tahun. Ya, ia memang mengaku salah, karena ia ketahuan bermain dengan wanita lain. Ia tergoda oleh rayuan dari salah satu pegawainya. Pegawainya itu memang masih muda, dengan badan yang masih kencang dan menggoda. Walaupun begitu, hanya sekali ia selingkuh. Sayang, tidak ada kesempatan kedua baginya.
Pada awalnya ia pun berpikir bahwa ia tidak akan merasa kehilangan pelukan istrinya, karena ia bisa dengan mudah mendapatkannya dari wanita lain. Ternyata ia salah. Oleh karena itulah setelah bercerai, ia merasa sangat menderita. Karena harus ia akui, sepanjang hidupnya, tidak ada wanita lain yang mampu memberikan dirinya ketenangan seperti yang diberikan oleh istrinya. Rasa ketika istrinya memeluknya saat hendak tidur dan menyandarkan kepalanya di bahu dadanya. Saat itulah ia merasa tenang dan lengkap sebagai seorang pria. Suatu rasa yang tidak mampu diberikan wanita lain. Ia sudah hampir putus asa karenanya, berpikir bahwa ia akan mati dalam kesepian, tanpa adanya perasaan seperti itu lagi.
Pagi saat ia bangun tidur. Sebelum ia berangkat menuju ke kantor perusahaan miliknya, salah satu ajudannya memberikan telepon. Ternyata anak bungsunya yang menelpon. Undangan pernikahan. Ternyata pernikahan dari putra bungsunya. Ia hanya tersenyum, putranya ini menikah cukup terlambat, baru menikah di usia ke 35. Putra bungsunya memang yang paling dekat dengannya. Entah kenapa, mungkin karena saat bercerai putranya ini baru berusia 1 tahun, sehingga ia merasa bahwa putranya ini masih membutuhkan kehadiran dirinya. Ia pun selalu meluangkan waktunya untuk bisa bersama dengan putra bungsunya tersebut. Hingga kini hubungan mereka sangatlah akrab, jauh lebih akrab dari hubungannya dengan kedua anak lainnya. Sehingga saat pernikahan kedua anaknya yang lain, ia tidak diundang. Dilihatnya tanggal di undangan tersebut, masih seminggu lagi, bertempat di kota kelahiran istrinya, kota dimana ia pertama kali bertemu dengan istrinya, kota yang juga menjadi tempat pernikahan mereka berdua. Ia sendiri tidak berasal dari kota yang sama dengan istrinya, ia hanya kuliah selama 4 tahun di kota tersebut. Tetapi kota itu menyimpan segala kenangan terindahnya. Ia tidak mengerti apa kehendak Tuhan kali ini.
Seminggu kemudian, pria itu berdiri di depan gedung pernikahan anaknya. Hatinya berkecamuk. Bagaimana tidak? Anak kesayangannya menikah di gedung yang sama dengan dirinya. Gemetar kakinya saat melangkah masuk ke gedung itu. Karena segala kenangan dengan istrinya, atau karena dirinya sudah begitu tua?
Sewaktu hendak melangsungkan pernikahan dengan istrinya, ia menyerahkan segala persiapan kepada istrinya. Ia pun hanya tertawa ketika istrinya memilih untuk menikah di gedung tua peninggalan belanda tersebut. Tetapi istrinya mempunyai alasan lain, katanya itu tempat dimana mereka pertama kali bertemu. Memang di gedung tua tersebut sering diadakan konser musik klasik. Mereka berdua tertarik akan musik klasik. Satu-satunya hal yang menarik perhatian mereka berdua. Karena antara ia dan istrinya sangatlah bertolak belakang dari berbagai hal. 10 tahun mereka berpacaran, gedung itu sering mereka kunjungi. Ketika mereka sudah lulus kuliah dan bekerja di kota lain, gedung itu juga selalu dikunjungi jika mereka berada di kota tersebut. Sehingga gedung itu sangatlah berarti bagi mereka berdua.
Saat bertemu dengan istrinya, hatinya begitu kalut tak karuan. Perasaan yang sama seperti ketika ia pertama kali melihat wanita tersebut di gedung ini. Tak mampu ia berkata banyak saat berhadapan kali ini. Ternyata hatinya begitu merindukan wanita tersebut. Air mata mengalir pelan di pipinya. Buru-buru ia permisi dan melangkah ke kamar mandi. Jantungnya berdegup terlalu kencang, ia pun susah bernapas. Kepalanya sakit sekali. Dunia seakan berputar-putar. Terbatuk-batuk ia. Ternyata batuknya berdarah. Segera diminum obat-obatan miliknya langsung dari botol. Pil-pil tersebut seakan menggelinding dari botol menuju tenggorokannya. Sialan, ia mengumpat. Susah sekali berumur 78 tahun dengan segala penyakit yang menyertainya.
Sekembali dari kamar mandi, kini ia sudah jauh lebih tenang. Walau begitu jantungnya masih berdegup kencang saat berbincang-bincang dengan istrinya. Istrinya tidak menikah lagi semenjak mereka berpisah. Suatu hal yang tidak bisa ia percayai. Di usianya yang senja ini istrinya masih terlihat cantik. Walau istrinya telah berumur 76 tahun, tetap saja istrinya mampu mencuri segala perhatiannya. Ia selalu rindu akan sorot mata dan suara istrinya, yang selalu menenangkan dirinya.
Saat ini resepsi perikahan anaknya telah selesai. Jam di arlojinya menunjukkan pukul 22.05. Ia hanya tersenyum. Hari ini semakin mendekati akhirnya, seperti hidupnya, begitu pikir pria tersebut. Ia tidak rela jauh-jauh datang kesini tanpa mendapatkan mimpinya. Maka ia pun menghampiri istrinya, dengan didorong satu harapan terakhir. Jantungnya berdegup semakin kencang, terlalu kencang.
Ia tidak percaya. Ia terbangun di rumah sakit. Di sebelahnya duduk istrinya dengan mata sembab, karena terlalu banyak menangis. Istrinya mengatakan bahwa ia terkena serangan jantung di pernikahan anaknya tadi. ia mengatakan bahwa keluarganya menunggu di luar kamar. Di kamar tersebut hanya ada mereka mereka berdua. Ia tersadar, bahwa istrinya menemani dirinya di akhir hidupnya.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang perlu diungkapkan. Mereka berdua sudah tahu bagaimana perasaan masng-masing. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Berdua hanyut dalam perasaan rindu. Tangannya menggenggam tangan istrinya. Degup jantung pria itu semakin lemah. Ia sampai harus memicingkan matanya. Napasnya mulai jarang. Kepalannya mulai ringan. Tangannya merogoh-rogoh kantung celananya, tetapi ia tidak menemukan yang ia cari. Saat itulah ia sadar akan 2 hal, bahwa ia tidak membawa obat-obatan tersebut serta hidupnya akan segera berakhir. Istrinya pun segera bangkit dari tempat duduk, ia ingin memanggil dokter. Tetapi pria itu melarangnya. Ia mengatakan bahwa semua yang dibutuhkan dirinya adalah kehadiran istrinya. Maka ia pun mengutarakan mimpinya kepada istrinya, bahwa ia ingin merasakan rasa yang telah lama hilang. Ia ingin istrinya memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dadanya sebelum tidur sekali lagi.
Kini istrinya telah berada di sampingnya. Istrinya telah naik ke ranjang. Kepalanya mulai ringan. Denyut jantungnya semakin lemah. Ia meminta agar istrinya jangan pergi, tetap berada di sampingnya, Samar-samar ia mendengar istrinya menangis. Ia pun merasakan bagaimana air mata istrinya membasahi dadanya serta bagaimana istrinya terisak-isak. Pria itupun berusaha mengucapkan sesuatu, dengan pelan. Ia meminta maaf. Wanita itu merasa menyesal. Mengapa ia tidak memaafkannya saja dari dulu. 34 tahun terbuang percuma. Sementara itu pandangan pria tersebut semakin gelap. Hingga akhirnya hanya kegelapan yang dilihatnya. Akhirnya, sekali lagi. Ia merasakan istrinya memeluknya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Pria itu hanya tersenyum.
Sabtu, 22 Agustus 2009
Beruntung atau Sial?
Beruntung atau Sial?
20 Agustus
Pukul 05.23
Hilang sudah harapanku untuk memperbaiki hubunganku dengan kedua orangtuanya. Bagaimana ingin memperbaiki hubungan jika satu-satunya putri, yang tentu saja menjadi buah hati mereka, diculik? Hingga kini polisi belum berhasil menemukan petunjuk yang menunjukkan keberadaannya. Bahkan menurut hipotesis salah satu polisi, ia sudah tewas. Karena mereka menemukan bekas darah pada jaket yang dikenakan pacarku. Beginilah keadaanku sekarang, kehilangan seorang wanita yang sangat aku cintai. Pasti kalian berpikir bahwa keadaan tidak bisa menjadi lebih buruk lagi. Kalian salah. Karena aku juga disalahkan oleh kedua orangtuanya perihal penculikan putri mereka. Tentu saja mereka menyalahkan aku, karena sebagai pacarnya seharusnya aku menjaganya, bukan meninggalkannya sendiri. Setidaknya begitulah pemikiran mereka. Selain itu aku orang terakhir yang bersamanya. Bagaimana menurut kalian? Sungguh sial bukan nasibku ini?
20 Agustus
Pukul 00.57
Sesampai di kantor polisi aku dimaki-maki oleh kedua orangtuanya. Mereka menuduh aku menelantarkan putri mereka hingga ia akhirnya diculik. Mereka meminta agar aku dihukum dan dimasukkan ke dalam penjara. Usul yang sangat buruk, dan aku tidak setuju dengan usul mereka tersebut. Harus kuakui, hubunganku dengan kedua orangtua pacarku tidaklah terlalu mulus. Sebagai seorang pejabat dan berdarah biru mereka ingin putri mereka mendapat jodoh yang lebih baik dibandingkan diriku ini, yang merupakan mahasiswa dari keluarga pas-pasan asal desa. Untuk bisa kuliah saja orangtuaku harus menjual sepetak sawah. Sedangkan untuk selanjutnya aku mendapat bantuan dari beasiswa.
Para polisi dan keluarga mereka pun bersusah payah untuk meredakan amarah kedua orangtua pacarku. Aku hanya diam. Pasrah. Untungnya salah satu polisi tetap berkepala dingin. Ia memutuskan agar kami berpencar dan membantu pencarian pacarku itu. Tentu saja aku lebih setuju dengan usul polisi itu. Selalu ada harapan jika kita berusaha.
20 Agustus
Pukul 00.20
Tersentak aku mendengar handphoneku berbunyi. Aku berharap pacarku yang menelepon, karena semenjak aku mengantarnya aku belum mendapat kabar darinya. Selain itu ia juga tidak sedang online. Langsung saja kujawab panggilan tersebut.
Sialan!! Ternyata kedua orangtuanya meneleponku. Mereka meminta aku untuk datang ke kantor polisi, karena hingga kini putri mereka belum juga tiba di rumah. Padahal pacarku itu bukan tipe wanita yang senang pulang malam. Jelas saja kedua orangtuanya kalang kabut, akupun semenjak tadi hanya menunggu gelisah kabar darinya. Selain itu aku juga sudah menelepon beberapa temannya. Berharap ia bersama salah satu dari mereka, ternyata aku salah. Hingga kini pacarku itu tidak diketahui di mana keberadaannya. Langsung saja kunyalakan motorku dan meluncur ke kantor polisi.
19 Agustus
Pukul 23.22
Aku bingung. Hingga kini pacarku tidak memberi kabar. Padahal biasanya ia memberi kabar setelah sampai di rumah. Gelisah menyelimutiku. Aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Ini di luar kebiasaan. Terbayang wajahnya. Apakah aku harus menelepon rumahnya? Aku tidak begitu yakin dengan ideku tersebut, mengingat bagaimana kedua orangtuanya memandang rendah diriku.
Lebih baik aku menghubungi teman-temannya saja, siapa tahu ia bersama dengan salah satu dari mereka. Atau mungkin saja ia terlalu asyik online dan berchatting ria bersama mereka. Berbeda dengan kedua orangtuanya, teman-temannya merestui hubungan kami. Walaupun pada awalnya mereka juga memandang rendah diriku ini, tetapi seiring berjalannya waktu mereka sadar. Bahwa aku memang tulus mencintai dirinya. Atau aku bisa pergi ke warnet, mengecek keberadaannya melalui dunia maya tersebut. Ya usul yang bagus. Segera kutelepon sahabatnya. Walapupun aku tidak terlalu yakin pacarku masih berada di luar rumah selarut ini, mengingat bagaimana kepribadiannya. Jika kita sudah melihat seseorang dengan hati, bukan dengan mata, maka logika tak lagi berarti.
19 Agustus
Pukul 22.46
Kulihat handphoneku, berharap ada pesan dari pacarku. Ternyata masih belum ada. Segera kulanjutkan tugas skripsiku.
19 Agustus
Pukul 22.18
Saat tiba di kamar, hal yang pertama kulakukan ialah mengecek handphoneku karena saat aku keluar untuk makan aku tidak membawanya. Ternyata tidak ada kabar dari pacarku. Akupun mencoba menghubunginya. Ternyata sama saja. Handphonenya mati. Aku heran, mengapa baterainya masih belum di charge. Apakah ia belum sampai rumah? Jika begitu, dimanakah ia sekarang? Tiba-tiba muncul perasaan agak khawatir. Walapun begitu, aku masih berpikiran positif, aku hanya mengirimkan pesan singkat agar ia menghubungiku sesampai rumah. Mungkin handphonenya dicopet atau ia terlalu lelah, sehingga ia tertidur begitu sampai rumah. Kedua hal itu sudah pernah terjadi. Lebih baik aku mengerjakan skripsiku sambil menunggu kabar darinya. Karena hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kekosongan.
19 Agustus
Pukul 21.45
Hmm....badan terasa segar sekali setelah mandi. Jika segar begini, ditambah beberapa cangkir kopi dan sebungkus Gudang Garam, maka aku bisa mengerjakan skripsiku hingga pagi. Aku hanya tersenyum memikirkan betapa cemerlang ideku tersebut. Sesaat kemudian kutersadar, bahwa aku belum makan malam. Pantas saja perutku keroncongan. Lebih baik aku mengisi perutku terlebih dahulu. Segera aku berpakaian dan mengambil dompetku. Persiapan memang penting sebelum melakukan sesuatu.
19 Agustus
Pukul 21.31
Akhirnya tiba juga aku di kamar. Hari ini sungguh lelah, seharian ini aku beraktivitas tiada henti. Kuliah, mengajar asistensi, mengantar pacar hingga les bahasa inggris. Belum lagi aku harus mengerjakan sripsiku, memang berat menjadi seorang mahasiswa. Lebih baik aku mengabari pacarku terlebih dahulu, bahwa aku sudah tiba di kos-kosan. Tetapi kedua handphonenya masih belum aktif. Agak heran juga aku.
Mengingat semua kegiatan yang kujalani, aku hanya bisa tersenyum. Karena ada seorang wanita yang selalu mendukung dan menemani diriku. Ya, aku sungguh beruntung mempunyai pacar seperti dirinya. Seorang wanita yang sangat cantik, terutama kepribadiannya. Karena dia aku makin yakin menatap masa depan, bahwa semua manusia bisa menentukan takdirnya sendiri. Mungkin ada baiknya jika aku mandi terlebih dahulu.
19 Agustus
Pukul 21.01
Hahh...Lega rasanya. Selesai juga les bahasa inggris ini. Hari ini aku menjalani ujian kenaikan tingkat, sungguh susah. Soal-soal yang kuhadapi sungguh sukar. Hampir pecah rasanya kepalaku. Belum lagi ujian lisannya. Sebenarnya aku malas mengikuti les seperti ini. Bukan apa-apa, aku mengikuti les ini karena dorongan pacarku. Ia mengatakan bahwa akan sangat baik untuk memilik ketrampilan bahasa asing. Karena akan memudahkanku untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku pun hanya menuruti sarannya saja, karena sejauh ini saran-sarannya memang tidak pernah salah. Jujur saja, aku banyak berubah sejak menjalin hubungan dengannya. Setiap pria memang ditakdirkan untuk bersama seorang wanita yang akan membuatnya jadi lebih baik.
19 Agustus
Pukul 17.49
”Ndut....hati-hati ya...Kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah”, aku berpesan kepada dirinya.
“Iya Yang, tapi handphoneku aku charge dulu ya....kamu juga hati-hati ya...sukses lho test inggrisnya”, pacarku pun mendoakanku agar aku sukses dalam tes inggrsku kali ini. Aku hanya tersenyum kecil. “Yang, besok kita jadi ke Bogor kan?”, pacarku bertanya perihal kencan kami esok.
“Jadi dong....besok ketemu di kampus jam 9 pagi ya”, aku hanya menjawab sambil tersenyum. Membayangkan betapa menyenenangkannya besok. Sengaja aku mengajak ia ke Bogor, karena ia memang suka dengan udara pegunungan. Menurutnya udara pegunungan membuatnya rileks dan bisa membuatnya tenang. Ia selalu suka jika pergi ke pegunungan dan ia juga sangat senang jika berada di tempat favoritnya bersama denganku. Begitu katanya. Apa yang lebih indah dari mengabiskan waktu bersama seseorang yang istimewa di tempat yang jug istimewa?
Maka pacarku pun melangkah pergi. Khusus setiap hari Selasa dan Kamis aku mengantarnya sampai Kuningan karena pada pukul 18.30 aku juga harus menghadiri les bahasa Inggris di sekitar Pancoran. Selain hari-hari itu, ia selalu membawa mobilnya. Yang mengherankan, ia senang dibonceng naik motor butut ini. Romantis. Begitu jawabnya saat aku menanyakan mengapa ia senang dibonceng olehku. Pacarku memang aneh. Ia tidak seperti wanita kebanyakan. Baginya cinta cukup diukur dari kesetiaan. Berbeda dengan wanita lainnya yang mengukur cinta dari materi dan materi. Sungguh beruntung aku bisa bersama dirinya. Segera aku meluncur menuju ke tempat lesku dengan harapan yang memenuhi hati. Rasanya aku pria yang paling beruntung di dunia.
20 Agustus
Pukul 05.23
Hilang sudah harapanku untuk memperbaiki hubunganku dengan kedua orangtuanya. Bagaimana ingin memperbaiki hubungan jika satu-satunya putri, yang tentu saja menjadi buah hati mereka, diculik? Hingga kini polisi belum berhasil menemukan petunjuk yang menunjukkan keberadaannya. Bahkan menurut hipotesis salah satu polisi, ia sudah tewas. Karena mereka menemukan bekas darah pada jaket yang dikenakan pacarku. Beginilah keadaanku sekarang, kehilangan seorang wanita yang sangat aku cintai. Pasti kalian berpikir bahwa keadaan tidak bisa menjadi lebih buruk lagi. Kalian salah. Karena aku juga disalahkan oleh kedua orangtuanya perihal penculikan putri mereka. Tentu saja mereka menyalahkan aku, karena sebagai pacarnya seharusnya aku menjaganya, bukan meninggalkannya sendiri. Setidaknya begitulah pemikiran mereka. Selain itu aku orang terakhir yang bersamanya. Bagaimana menurut kalian? Sungguh sial bukan nasibku ini?
20 Agustus
Pukul 00.57
Sesampai di kantor polisi aku dimaki-maki oleh kedua orangtuanya. Mereka menuduh aku menelantarkan putri mereka hingga ia akhirnya diculik. Mereka meminta agar aku dihukum dan dimasukkan ke dalam penjara. Usul yang sangat buruk, dan aku tidak setuju dengan usul mereka tersebut. Harus kuakui, hubunganku dengan kedua orangtua pacarku tidaklah terlalu mulus. Sebagai seorang pejabat dan berdarah biru mereka ingin putri mereka mendapat jodoh yang lebih baik dibandingkan diriku ini, yang merupakan mahasiswa dari keluarga pas-pasan asal desa. Untuk bisa kuliah saja orangtuaku harus menjual sepetak sawah. Sedangkan untuk selanjutnya aku mendapat bantuan dari beasiswa.
Para polisi dan keluarga mereka pun bersusah payah untuk meredakan amarah kedua orangtua pacarku. Aku hanya diam. Pasrah. Untungnya salah satu polisi tetap berkepala dingin. Ia memutuskan agar kami berpencar dan membantu pencarian pacarku itu. Tentu saja aku lebih setuju dengan usul polisi itu. Selalu ada harapan jika kita berusaha.
20 Agustus
Pukul 00.20
Tersentak aku mendengar handphoneku berbunyi. Aku berharap pacarku yang menelepon, karena semenjak aku mengantarnya aku belum mendapat kabar darinya. Selain itu ia juga tidak sedang online. Langsung saja kujawab panggilan tersebut.
Sialan!! Ternyata kedua orangtuanya meneleponku. Mereka meminta aku untuk datang ke kantor polisi, karena hingga kini putri mereka belum juga tiba di rumah. Padahal pacarku itu bukan tipe wanita yang senang pulang malam. Jelas saja kedua orangtuanya kalang kabut, akupun semenjak tadi hanya menunggu gelisah kabar darinya. Selain itu aku juga sudah menelepon beberapa temannya. Berharap ia bersama salah satu dari mereka, ternyata aku salah. Hingga kini pacarku itu tidak diketahui di mana keberadaannya. Langsung saja kunyalakan motorku dan meluncur ke kantor polisi.
19 Agustus
Pukul 23.22
Aku bingung. Hingga kini pacarku tidak memberi kabar. Padahal biasanya ia memberi kabar setelah sampai di rumah. Gelisah menyelimutiku. Aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Ini di luar kebiasaan. Terbayang wajahnya. Apakah aku harus menelepon rumahnya? Aku tidak begitu yakin dengan ideku tersebut, mengingat bagaimana kedua orangtuanya memandang rendah diriku.
Lebih baik aku menghubungi teman-temannya saja, siapa tahu ia bersama dengan salah satu dari mereka. Atau mungkin saja ia terlalu asyik online dan berchatting ria bersama mereka. Berbeda dengan kedua orangtuanya, teman-temannya merestui hubungan kami. Walaupun pada awalnya mereka juga memandang rendah diriku ini, tetapi seiring berjalannya waktu mereka sadar. Bahwa aku memang tulus mencintai dirinya. Atau aku bisa pergi ke warnet, mengecek keberadaannya melalui dunia maya tersebut. Ya usul yang bagus. Segera kutelepon sahabatnya. Walapupun aku tidak terlalu yakin pacarku masih berada di luar rumah selarut ini, mengingat bagaimana kepribadiannya. Jika kita sudah melihat seseorang dengan hati, bukan dengan mata, maka logika tak lagi berarti.
19 Agustus
Pukul 22.46
Kulihat handphoneku, berharap ada pesan dari pacarku. Ternyata masih belum ada. Segera kulanjutkan tugas skripsiku.
19 Agustus
Pukul 22.18
Saat tiba di kamar, hal yang pertama kulakukan ialah mengecek handphoneku karena saat aku keluar untuk makan aku tidak membawanya. Ternyata tidak ada kabar dari pacarku. Akupun mencoba menghubunginya. Ternyata sama saja. Handphonenya mati. Aku heran, mengapa baterainya masih belum di charge. Apakah ia belum sampai rumah? Jika begitu, dimanakah ia sekarang? Tiba-tiba muncul perasaan agak khawatir. Walapun begitu, aku masih berpikiran positif, aku hanya mengirimkan pesan singkat agar ia menghubungiku sesampai rumah. Mungkin handphonenya dicopet atau ia terlalu lelah, sehingga ia tertidur begitu sampai rumah. Kedua hal itu sudah pernah terjadi. Lebih baik aku mengerjakan skripsiku sambil menunggu kabar darinya. Karena hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kekosongan.
19 Agustus
Pukul 21.45
Hmm....badan terasa segar sekali setelah mandi. Jika segar begini, ditambah beberapa cangkir kopi dan sebungkus Gudang Garam, maka aku bisa mengerjakan skripsiku hingga pagi. Aku hanya tersenyum memikirkan betapa cemerlang ideku tersebut. Sesaat kemudian kutersadar, bahwa aku belum makan malam. Pantas saja perutku keroncongan. Lebih baik aku mengisi perutku terlebih dahulu. Segera aku berpakaian dan mengambil dompetku. Persiapan memang penting sebelum melakukan sesuatu.
19 Agustus
Pukul 21.31
Akhirnya tiba juga aku di kamar. Hari ini sungguh lelah, seharian ini aku beraktivitas tiada henti. Kuliah, mengajar asistensi, mengantar pacar hingga les bahasa inggris. Belum lagi aku harus mengerjakan sripsiku, memang berat menjadi seorang mahasiswa. Lebih baik aku mengabari pacarku terlebih dahulu, bahwa aku sudah tiba di kos-kosan. Tetapi kedua handphonenya masih belum aktif. Agak heran juga aku.
Mengingat semua kegiatan yang kujalani, aku hanya bisa tersenyum. Karena ada seorang wanita yang selalu mendukung dan menemani diriku. Ya, aku sungguh beruntung mempunyai pacar seperti dirinya. Seorang wanita yang sangat cantik, terutama kepribadiannya. Karena dia aku makin yakin menatap masa depan, bahwa semua manusia bisa menentukan takdirnya sendiri. Mungkin ada baiknya jika aku mandi terlebih dahulu.
19 Agustus
Pukul 21.01
Hahh...Lega rasanya. Selesai juga les bahasa inggris ini. Hari ini aku menjalani ujian kenaikan tingkat, sungguh susah. Soal-soal yang kuhadapi sungguh sukar. Hampir pecah rasanya kepalaku. Belum lagi ujian lisannya. Sebenarnya aku malas mengikuti les seperti ini. Bukan apa-apa, aku mengikuti les ini karena dorongan pacarku. Ia mengatakan bahwa akan sangat baik untuk memilik ketrampilan bahasa asing. Karena akan memudahkanku untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku pun hanya menuruti sarannya saja, karena sejauh ini saran-sarannya memang tidak pernah salah. Jujur saja, aku banyak berubah sejak menjalin hubungan dengannya. Setiap pria memang ditakdirkan untuk bersama seorang wanita yang akan membuatnya jadi lebih baik.
19 Agustus
Pukul 17.49
”Ndut....hati-hati ya...Kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah”, aku berpesan kepada dirinya.
“Iya Yang, tapi handphoneku aku charge dulu ya....kamu juga hati-hati ya...sukses lho test inggrisnya”, pacarku pun mendoakanku agar aku sukses dalam tes inggrsku kali ini. Aku hanya tersenyum kecil. “Yang, besok kita jadi ke Bogor kan?”, pacarku bertanya perihal kencan kami esok.
“Jadi dong....besok ketemu di kampus jam 9 pagi ya”, aku hanya menjawab sambil tersenyum. Membayangkan betapa menyenenangkannya besok. Sengaja aku mengajak ia ke Bogor, karena ia memang suka dengan udara pegunungan. Menurutnya udara pegunungan membuatnya rileks dan bisa membuatnya tenang. Ia selalu suka jika pergi ke pegunungan dan ia juga sangat senang jika berada di tempat favoritnya bersama denganku. Begitu katanya. Apa yang lebih indah dari mengabiskan waktu bersama seseorang yang istimewa di tempat yang jug istimewa?
Maka pacarku pun melangkah pergi. Khusus setiap hari Selasa dan Kamis aku mengantarnya sampai Kuningan karena pada pukul 18.30 aku juga harus menghadiri les bahasa Inggris di sekitar Pancoran. Selain hari-hari itu, ia selalu membawa mobilnya. Yang mengherankan, ia senang dibonceng naik motor butut ini. Romantis. Begitu jawabnya saat aku menanyakan mengapa ia senang dibonceng olehku. Pacarku memang aneh. Ia tidak seperti wanita kebanyakan. Baginya cinta cukup diukur dari kesetiaan. Berbeda dengan wanita lainnya yang mengukur cinta dari materi dan materi. Sungguh beruntung aku bisa bersama dirinya. Segera aku meluncur menuju ke tempat lesku dengan harapan yang memenuhi hati. Rasanya aku pria yang paling beruntung di dunia.
Sabtu, 08 Agustus 2009
Ekspolitasi Sampai Mati
Pada hari Selasa kemarin (4/8), Mbah Surip meninggal dunia. Hal itu sungguh mengejutkan seluruh kalangan masyarakat, bahkan Presiden SBY sampai menggelar jumpa pers untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Mbah Surip. Banyak masyarakat yang merasa kehilangan, apalagi kalau bukan karena Mbah Surip meninggal di tengah puncak popularitasnya.
Belum lama ini kita juga kehilangan salah satu musisi besar, bahkan tidak hanya masyarakat Indonesia yang merasa kehilangan melainkan seluruh masyarakat Planet Bumi. Ya, saat Michael Jackson meninggal sepertinya semua siaran televisi menayangkan berita tentang meninggalnya dia untuk mengenangnya. Di luar simpang siur akibat meninggalnya Michael Jackson, atau yang sering dipanggil Jacko, saya menemukan adanya benang merah antara Jacko dengan Mbah Surip.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Jacko meninggal pada saat memersiapkan diri untuk “World Tour Concert”nya. Yang menjadi masalah ialah bahwa ada beberapa kemungkinan yang menyebutkan Jacko “dipaksa” menggelar konser untuk melunasi hutangnya yang hampir mencapai Rp 5 triliun. Sehingga ia harus bekerja keras siang malam, bahkan hingga menggunakan berbagai obat terlarang untuk membantu mempersiapkan dirinya hingga ia meninggal.
Sementara itu Mbah Surip juga “hampir” mengalami nasib yang sama. Semenjak mengeluarkan lagu “Tak Gendong” yang menjadi hits, hidup Mbah Surip berubah 180 derajat. Jika dulu dirinya hidup santai dan damai kini dirinya tidak bisa lagi menikmati hal tersebut, karena ia harus memenuhi “panggilan tugas” untuk konser dan menjadi bintang tamu di berbagai acara, baik televisi maupun radio.
Pada Kompas tanggal 5 Agustus 2009, disebutkan bahwa Boy Utrip yang merupakan sopir Kampung Artis (Manajemen tempat Mbah Surip bernaung), juga meninggal pada hari yang sama dengan Mbah Surip. Boy biasa mengantarkan Mbah Surip bepergian selama ini. Bahkan beberapa hari sebelum Boy meninggal, ia sempat mengalami stroke karena terlalu lelah. Salah satu petinggi Kampung Artis yaitu Sugama Trisnadi menyatakan bahwa jadwal Mbah Surip sangatlah padat, minimal mereka mengunjungi hingga 4 tempat dalam sehari (Kompas, 5 Agustus 2009 hal 15). Bisa kita bayangkan bagaimana lelahnya Mbah Surip serta Boy.
Mbah Surip dan Jacko menjadi korban eksploitasi yang berlebihan hingga mereka merasa terlalu lelah untuk menjalani jadwal mereka. Mereka merupakan salah satu contoh bagaimana industri musik dan tuntutan penggemar membuat mereka harus “berakting” dalam kehidupan mereka. Mereka menambah daftar selebriti yang meninggal di tengah puncak popularitas seperti Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Tupac hingga John Lennon. Jangan mencari kambing hitam dari kejadian ini, karena semua pihak ikut terlibat baik dari label, penggemar bahkan hingga dari artis sendiri. Selama ini, kita sering mendengar bahwa banyak orang ingin menjadi artis karena mereka ingin terkenal. Sayangnya mereka hanya melihat permukaan saja. Mereka belum tahu bagaimana rasanya menjadi sapi perah yang harus bekerja siang malam untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai seorang selebritis. Jika dulu mereka membuat musik dan berkarya karena keinginan mereka, kini mereka bermusik karena tuntutan kontrak. Mereka dieksploitasi sampai mati.
Pada hari Selasa kemarin (4/8), Mbah Surip meninggal dunia. Hal itu sungguh mengejutkan seluruh kalangan masyarakat, bahkan Presiden SBY sampai menggelar jumpa pers untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Mbah Surip. Banyak masyarakat yang merasa kehilangan, apalagi kalau bukan karena Mbah Surip meninggal di tengah puncak popularitasnya.
Belum lama ini kita juga kehilangan salah satu musisi besar, bahkan tidak hanya masyarakat Indonesia yang merasa kehilangan melainkan seluruh masyarakat Planet Bumi. Ya, saat Michael Jackson meninggal sepertinya semua siaran televisi menayangkan berita tentang meninggalnya dia untuk mengenangnya. Di luar simpang siur akibat meninggalnya Michael Jackson, atau yang sering dipanggil Jacko, saya menemukan adanya benang merah antara Jacko dengan Mbah Surip.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Jacko meninggal pada saat memersiapkan diri untuk “World Tour Concert”nya. Yang menjadi masalah ialah bahwa ada beberapa kemungkinan yang menyebutkan Jacko “dipaksa” menggelar konser untuk melunasi hutangnya yang hampir mencapai Rp 5 triliun. Sehingga ia harus bekerja keras siang malam, bahkan hingga menggunakan berbagai obat terlarang untuk membantu mempersiapkan dirinya hingga ia meninggal.
Sementara itu Mbah Surip juga “hampir” mengalami nasib yang sama. Semenjak mengeluarkan lagu “Tak Gendong” yang menjadi hits, hidup Mbah Surip berubah 180 derajat. Jika dulu dirinya hidup santai dan damai kini dirinya tidak bisa lagi menikmati hal tersebut, karena ia harus memenuhi “panggilan tugas” untuk konser dan menjadi bintang tamu di berbagai acara, baik televisi maupun radio.
Pada Kompas tanggal 5 Agustus 2009, disebutkan bahwa Boy Utrip yang merupakan sopir Kampung Artis (Manajemen tempat Mbah Surip bernaung), juga meninggal pada hari yang sama dengan Mbah Surip. Boy biasa mengantarkan Mbah Surip bepergian selama ini. Bahkan beberapa hari sebelum Boy meninggal, ia sempat mengalami stroke karena terlalu lelah. Salah satu petinggi Kampung Artis yaitu Sugama Trisnadi menyatakan bahwa jadwal Mbah Surip sangatlah padat, minimal mereka mengunjungi hingga 4 tempat dalam sehari (Kompas, 5 Agustus 2009 hal 15). Bisa kita bayangkan bagaimana lelahnya Mbah Surip serta Boy.
Mbah Surip dan Jacko menjadi korban eksploitasi yang berlebihan hingga mereka merasa terlalu lelah untuk menjalani jadwal mereka. Mereka merupakan salah satu contoh bagaimana industri musik dan tuntutan penggemar membuat mereka harus “berakting” dalam kehidupan mereka. Mereka menambah daftar selebriti yang meninggal di tengah puncak popularitas seperti Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Tupac hingga John Lennon. Jangan mencari kambing hitam dari kejadian ini, karena semua pihak ikut terlibat baik dari label, penggemar bahkan hingga dari artis sendiri. Selama ini, kita sering mendengar bahwa banyak orang ingin menjadi artis karena mereka ingin terkenal. Sayangnya mereka hanya melihat permukaan saja. Mereka belum tahu bagaimana rasanya menjadi sapi perah yang harus bekerja siang malam untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai seorang selebritis. Jika dulu mereka membuat musik dan berkarya karena keinginan mereka, kini mereka bermusik karena tuntutan kontrak. Mereka dieksploitasi sampai mati.
Sabtu, 25 Juli 2009
Saat Terjaga Sendiri
Saat Terjaga Sendiri
Dia berkedip sekali. Diikuti beberapa kedipan lainnya. Tetap sama seperti biasa. Selalu terjaga saat orang lain tidur. Lalu dia membalikan badannya ke samping dengan gelisah seraya berpikir mencari solusi agar segera bisa tidur. Hasilnya pun tetap sama, tidak berhasil. Dia baru bisa terlelap saat sinar mentari mulai tampak di Timur sana.
Jam menunjukkan pukul 02.57 WIB. Di sebelahnya tergeletak istrinya. Dia memandang wajah istrinya seraya berpikir dengan heran mengapa muka istrinya terlihat begitu tenang dan teduh. Menurutnya istrinya tidak banyak bergerak saat tidur. Bahkan bisa dibilang tidak ada perubaan posisi semenjak memejamkan mata hingga terbangun kembali. Sungguh teramat beda saat menjalani rutinitas sehari-hari. Ia pun hanya tersenyum kecil sambil bergegas meninggalkan ranjangnya.
Sambil menuruni tangga ia mulai menyalakan rokoknya. Sunyi. Tidak ada yang terbangun di rumah itu kecuali dirinya. Dengan begitu ia bebas untuk merokok di mana saja. Ia pun berpikir untuk merokok di teras depan malam ini. Tempat itu merupakan tempat favoritnya. Sebelum melangkah ke tempat favoritnya, ia membuat segelas cokelat hangat. Sambil menuangkan air panas ia pun membayangkan betapa nikmatnya merokok ditemani angin malam dan segelas cokelat hangat.
Kebiasaan ini baru berjalan beberapa bulan. Ia selalu sembunyi-sembunyi apabila saat sedang merokok. Kadang ia bersykur mempunyai insomnia karena ia bisa merokok saat tengah malam seperti ini. Ya, hanya dirinya sendiri yang tahu. Tidak banyak orang yang mengetahui kebiasaan buruknya ini, bahkan keluarganya sendiri. Istrinya sangat membenci asap rokok. Hal itu dikarenakan salah satu pamannya meninggal akibat kanker paru-paru. Terlebih istrinya sangat dekat dengan pamannya tersebut. Ia serta istrinya mendoktrin anak-anak mereka untuk tidak merokok. Bahwa merokok itu teramat buruk. Dulu ia juga membenci asap rokok. Tetapi selalu ada hal buruk yang menimpa dan merubah hidup seorang pria.
Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dedaunan pun ikut bergoyang. Ia berpikir mungkin akan turun hujan. Biasanya pada saat seperti ini ia berpikir tentang kehidupannya. Ada satu hal yang belakangan ini menyita banyak perhatiannya. Ya, apa yang telah ia lakukan.
Wanita itu selalu memabukkan dirinya. Setiap perjumpaan dengannya selalu terasa berbeda. Tidak pernah sama, begitu menantang dan mengasyikkan. Kini berkat wanita itu, ia merasa ada hal yang harus ditaklukan dan dikejar lagi. Hidupnya kini kembali dipenuhi perasaan lapar dan hasrat. Memang begitu kebiasaan pria, selalu senang akan tantangan dari suatu hal yang baru. Sebenarnya wanita itu memberi banyak dampak postif. Setidaknya menurut dirinya sendiri. Sayangnya wanita itu merupakan simpanan.
Ia pun hanya tersenyum kecil, mengingat perjumpaan pertama dengan wanita tersebut. Semua berjalan begitu cepat dan mengalir begitu saja. Tidak pernah ia membuat janji untuk bertemu dengan wanita itu. Semua berjalan seperti kebetulan. Rutinitas memang membingungkan. Kadang kita melakukan hal yang sama persis setiap hari tetapi mempunyai akibat yang berbeda.
Seperti biasa, sehabis pulang kantor pada hari Jumat, ia selalu mampir ke toko buku. Memang ia sangat senang membaca. Ia selalu beralasan membeli buku-buku tersebut untuk menemaninya di akhir pekan. Pada suatu hari ia melihat seorang wanita. Sebenarnya wanita tersebut biasa saja. Berumur sekitar 30an. Tidak terlalu tinggi, agak pendek. Berkulit cokelat matang. Hanya saja, sepertinya ada yang beda dari dirinya. Ternyata ia juga membeli buku yang sama. Maka ia pun memperkenalkan dirinya. Ia pun mengajak wanita itu untuk berbincang sejenak di kafe. Lalu mereka pun menghabiskan sore dengan mengobrol di kafe. Obrolan mereka berkisar tentang buku. Ternyata wanita tersebut juga mempunyai hobi yang sama. Ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu seperti petir. Kita tidak bisa menebak akan jatuh di mana. Ia pun setuju dengan hal itu.
Pada minggu-minggu selanjutnya mereka selalu bertemu di toko buku yang sama. Mereka berdua bahkan tidak saling mengetahui nomor telepon masing-masing. Mereka hanya berpedoman pada kebiasaan akhir pekan mereka. Yang kemudian berlanjut lebih jauh. Bahkan terlalu jauh.
Sudah 3 bulan ini istrinya sakit keras. Menurut dokter istrinya mengalami gangguan pada jantungnya, lebih tepatnya pada pembuluhnya. Semenjak itu ia merasa bersalah pada istrinya. Karena ia tidak bisa menemaninya setiap saat. Saat pertama istrinya terkena serangan jantung hingga dirawat di ICU, ia sedang bersama wanita itu. Ia kini ingin memutuskan hubungannya dengan wanita tersebut dan ingin lebih fokus untuk mengurus istrinya. Tetapi kini wanita itu hamil. Ya, wanita itu kini mengandung anaknya. Kini wanita itu meminta nomor teleponnya, untuk meminta pertanggung jawaban. Kini usia kandungannya sudah berusia lebih dari 2 bulan. Itulah mengapa ia kini sering merokok. Terutama pada malam hari. Ia merasa mempunyai alasan untuk merokok.
Samar-samar ia mendengar suara dari masjid di belakang rumahnya. Rupanya sebentar lagi Subuh. Ia pun mematikan rokoknya. Hari ini ia hampir menghabiskan satu bungkus Gudang Garamnya. Dirinya kini merasa kantuk. Serta teramat lelah. Ia berpikir bahwa dirinya lelah secara mental. Langsung saja ia menuju kamarnya.
Seperti biasa, ia bangun tidur pukul 07.30. Langsung saja ia menuju kamar mandi. Selepas dari kamar mandi, saat menuruni tangga ia melihat istrinya sedang duduk di meja makan. Sepertinya istrinya sedang menunggunya. Ternyata istrinya menemukan bungkus rokoknya. Ia tersadar bahwa ia lupa membawa dan menyembunyikan rokoknya. Tentu saja istrinya marah besar, ia merasa ditipu. Ia bingung harus berkata apa kepada anak-anaknya, bahwa ternyata ayah mereka seorang yang munafik. Ia mengakui dalam hati, bahwa memang selama ini ia telah menipu istrinya. Istrinya terus bertanya kenapa ia merokok. Sejak kapan ia mulai merokok. Ia hanya bisa terdiam. Jauh di dalam hatinya ia merasa mempunyai alibi untuk merokok. Seandainya istrinya tahu apa alasannya, mungkin istrinya akan mengerti mengapa ia merokok. Karena alasan bisa membuat yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Setidaknya ia berpendapat seperti itu.
Dia berkedip sekali. Diikuti beberapa kedipan lainnya. Tetap sama seperti biasa. Selalu terjaga saat orang lain tidur. Lalu dia membalikan badannya ke samping dengan gelisah seraya berpikir mencari solusi agar segera bisa tidur. Hasilnya pun tetap sama, tidak berhasil. Dia baru bisa terlelap saat sinar mentari mulai tampak di Timur sana.
Jam menunjukkan pukul 02.57 WIB. Di sebelahnya tergeletak istrinya. Dia memandang wajah istrinya seraya berpikir dengan heran mengapa muka istrinya terlihat begitu tenang dan teduh. Menurutnya istrinya tidak banyak bergerak saat tidur. Bahkan bisa dibilang tidak ada perubaan posisi semenjak memejamkan mata hingga terbangun kembali. Sungguh teramat beda saat menjalani rutinitas sehari-hari. Ia pun hanya tersenyum kecil sambil bergegas meninggalkan ranjangnya.
Sambil menuruni tangga ia mulai menyalakan rokoknya. Sunyi. Tidak ada yang terbangun di rumah itu kecuali dirinya. Dengan begitu ia bebas untuk merokok di mana saja. Ia pun berpikir untuk merokok di teras depan malam ini. Tempat itu merupakan tempat favoritnya. Sebelum melangkah ke tempat favoritnya, ia membuat segelas cokelat hangat. Sambil menuangkan air panas ia pun membayangkan betapa nikmatnya merokok ditemani angin malam dan segelas cokelat hangat.
Kebiasaan ini baru berjalan beberapa bulan. Ia selalu sembunyi-sembunyi apabila saat sedang merokok. Kadang ia bersykur mempunyai insomnia karena ia bisa merokok saat tengah malam seperti ini. Ya, hanya dirinya sendiri yang tahu. Tidak banyak orang yang mengetahui kebiasaan buruknya ini, bahkan keluarganya sendiri. Istrinya sangat membenci asap rokok. Hal itu dikarenakan salah satu pamannya meninggal akibat kanker paru-paru. Terlebih istrinya sangat dekat dengan pamannya tersebut. Ia serta istrinya mendoktrin anak-anak mereka untuk tidak merokok. Bahwa merokok itu teramat buruk. Dulu ia juga membenci asap rokok. Tetapi selalu ada hal buruk yang menimpa dan merubah hidup seorang pria.
Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dedaunan pun ikut bergoyang. Ia berpikir mungkin akan turun hujan. Biasanya pada saat seperti ini ia berpikir tentang kehidupannya. Ada satu hal yang belakangan ini menyita banyak perhatiannya. Ya, apa yang telah ia lakukan.
Wanita itu selalu memabukkan dirinya. Setiap perjumpaan dengannya selalu terasa berbeda. Tidak pernah sama, begitu menantang dan mengasyikkan. Kini berkat wanita itu, ia merasa ada hal yang harus ditaklukan dan dikejar lagi. Hidupnya kini kembali dipenuhi perasaan lapar dan hasrat. Memang begitu kebiasaan pria, selalu senang akan tantangan dari suatu hal yang baru. Sebenarnya wanita itu memberi banyak dampak postif. Setidaknya menurut dirinya sendiri. Sayangnya wanita itu merupakan simpanan.
Ia pun hanya tersenyum kecil, mengingat perjumpaan pertama dengan wanita tersebut. Semua berjalan begitu cepat dan mengalir begitu saja. Tidak pernah ia membuat janji untuk bertemu dengan wanita itu. Semua berjalan seperti kebetulan. Rutinitas memang membingungkan. Kadang kita melakukan hal yang sama persis setiap hari tetapi mempunyai akibat yang berbeda.
Seperti biasa, sehabis pulang kantor pada hari Jumat, ia selalu mampir ke toko buku. Memang ia sangat senang membaca. Ia selalu beralasan membeli buku-buku tersebut untuk menemaninya di akhir pekan. Pada suatu hari ia melihat seorang wanita. Sebenarnya wanita tersebut biasa saja. Berumur sekitar 30an. Tidak terlalu tinggi, agak pendek. Berkulit cokelat matang. Hanya saja, sepertinya ada yang beda dari dirinya. Ternyata ia juga membeli buku yang sama. Maka ia pun memperkenalkan dirinya. Ia pun mengajak wanita itu untuk berbincang sejenak di kafe. Lalu mereka pun menghabiskan sore dengan mengobrol di kafe. Obrolan mereka berkisar tentang buku. Ternyata wanita tersebut juga mempunyai hobi yang sama. Ada yang bilang bahwa jatuh cinta itu seperti petir. Kita tidak bisa menebak akan jatuh di mana. Ia pun setuju dengan hal itu.
Pada minggu-minggu selanjutnya mereka selalu bertemu di toko buku yang sama. Mereka berdua bahkan tidak saling mengetahui nomor telepon masing-masing. Mereka hanya berpedoman pada kebiasaan akhir pekan mereka. Yang kemudian berlanjut lebih jauh. Bahkan terlalu jauh.
Sudah 3 bulan ini istrinya sakit keras. Menurut dokter istrinya mengalami gangguan pada jantungnya, lebih tepatnya pada pembuluhnya. Semenjak itu ia merasa bersalah pada istrinya. Karena ia tidak bisa menemaninya setiap saat. Saat pertama istrinya terkena serangan jantung hingga dirawat di ICU, ia sedang bersama wanita itu. Ia kini ingin memutuskan hubungannya dengan wanita tersebut dan ingin lebih fokus untuk mengurus istrinya. Tetapi kini wanita itu hamil. Ya, wanita itu kini mengandung anaknya. Kini wanita itu meminta nomor teleponnya, untuk meminta pertanggung jawaban. Kini usia kandungannya sudah berusia lebih dari 2 bulan. Itulah mengapa ia kini sering merokok. Terutama pada malam hari. Ia merasa mempunyai alasan untuk merokok.
Samar-samar ia mendengar suara dari masjid di belakang rumahnya. Rupanya sebentar lagi Subuh. Ia pun mematikan rokoknya. Hari ini ia hampir menghabiskan satu bungkus Gudang Garamnya. Dirinya kini merasa kantuk. Serta teramat lelah. Ia berpikir bahwa dirinya lelah secara mental. Langsung saja ia menuju kamarnya.
Seperti biasa, ia bangun tidur pukul 07.30. Langsung saja ia menuju kamar mandi. Selepas dari kamar mandi, saat menuruni tangga ia melihat istrinya sedang duduk di meja makan. Sepertinya istrinya sedang menunggunya. Ternyata istrinya menemukan bungkus rokoknya. Ia tersadar bahwa ia lupa membawa dan menyembunyikan rokoknya. Tentu saja istrinya marah besar, ia merasa ditipu. Ia bingung harus berkata apa kepada anak-anaknya, bahwa ternyata ayah mereka seorang yang munafik. Ia mengakui dalam hati, bahwa memang selama ini ia telah menipu istrinya. Istrinya terus bertanya kenapa ia merokok. Sejak kapan ia mulai merokok. Ia hanya bisa terdiam. Jauh di dalam hatinya ia merasa mempunyai alibi untuk merokok. Seandainya istrinya tahu apa alasannya, mungkin istrinya akan mengerti mengapa ia merokok. Karena alasan bisa membuat yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Setidaknya ia berpendapat seperti itu.
Senin, 20 Juli 2009
Mogok dan Ke(tidak)pedulian
Mogok dan Ke(tidak)pedulian
Pada Sabtu sore ini mobil pick-up saya mogok karena kehabisan bensin di sekitar wilayah Pamulang. Untung saja mobil tersebut mogok tepat di depan SPBU. Maka saya dan supir saya pun mencoba untuk mendorongnya. Hanya saja karena mobil pick-up itu dipenuhi oleh tabung gas maka tenaga kami berdua tidaklah cukup. Mobil tetap tidak bergeming. Sekitar 20 meter dari tempat saya, terdapat lima anak Punk yang sedang memperhatikan saya. Sayangnya mereka hanya diam saja. Hingga salah satu petugas SPBU ikut membantu kami untuk mendorong. Dengan bantuan petugas tersebut maka mobil ini bisa didorong hingga sampai di tempat pengisisan bensin.
Setelah saya mengisi bensin, maka mobil pun sudah bisa menyala kembali. Lalu mobil segera meluncur keluar dari SPBU. Tepat di depan pintu keluar SPBU anak-anak Punk yang tadi memperhatikan kami menyetop mobil untuk meminta tumpangan. Maka mobil pun berhenti.
“Bang!!!Numpang ya Bang!!!”, celetuk salah satu anak Punk.
”Lo emang pada mau kemana?”, saya pun bertanya kepada mereka.
“Kemana aja Bang. Yang penting ikut....”, yang lainnya ikut menjawab
“Yah elu..tadi mobil gw mogok lo pada kagak mau bantuin dorong. Sekarang mobil udah jalan lo pada mau ikut nebeng. Gimana sih?”, saya pun bertanya sambil memendam perasaan agak sebal.
“Hehehehe....”, mereka hanya tertawa. Tetapi mereka tetap naik ke bak mobil. Saya pun tidak terlau keberatan dengan memberi mereka tumpangan. Karena saya juga sering menumpang mobil bak sewaktu kecil.
Di tengah jalan mereka bernyanyi bersama-sama. Kebetulan beberapa dari mereka membawa alat musik seperti gitar dan gendang. Mungkin untuk mengusir jenuh karena jalan cukup macet di ujung Pondok Cabe. Seperti biasa, lagu-lagu yang mereka nyanyikan bertema tentang ketidakadilan sosial, menghujat kaum elite serta harapan-harapan mereka akan kondisi yang lebih baik (untuk mereka). Mungkin dengan menyanyikan lagu seperti itu mereka merasa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pada saat mendengar lagu-lagu yang mereka mainkan saya pun tersenyum sinis. Mereka merasa muak dan skeptis dengan kondisi sekarang. Seakan mereka menyuarakan ketidakadilan bagi kaum tertindas. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan, kalau hanya untuk membantu mobil yang mogok saja mereka tidak mau? Bagaimana mereka bisa mengubah dunia menjadi lebih baik? Bagi saya, lagu-lagu yang mereka nyanyikan hanyalah kata-kata yang keluar dari mulut semata. Tidak mempunyai makna. Karena kata-kata mereka tidaklah diamalkan. Tidak ada bedanya dengan para politikus yang mengumbar janji-janji palsu, yang mereka hujat habis-habisan dala lirik lagu mereka karena politikus-politikus tersebut mereka anggap tidak peduli terhadap rakyat. Mereka toh juga tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Lalu buat apa mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut? Seharusnya mereka malu.
Setelah mendekati Fatmawati, mobil pun berbelok memasuki Taman Cilandak. Di situ mereka meminta turun.
“Makasih ya Bang!!”, salah satu anak mengucapkan sambil mendekati saya
“Sip..sip....”, saya pun hanya mengangguk-anggukan kepala.
Sebelum mereka pergi saya memanggil salah satu dari mereka, “Oi....oi....sini bentar dah....lain kali kalo ada orang yang mbilnya mogok....bantuin ya....hehehe”. Seketika anak tersebut agak terkejut. Mungkin ia tidak menyangka saya akan berkata seperti itu. ”I....iya..iya...iya....bang.....”, begitu jawabnya. Sementara temannya yang lain berkata, “Makasih banyak bang!!!”, tepat pada saat mobil mulai melaju. Sayapun hanya mengacungkan jempol sebagai tanda balasan.
-Semoga saja masih ada orang yang rela untuk tidak selalu memikirkan dirinya sendiri.-
Pada Sabtu sore ini mobil pick-up saya mogok karena kehabisan bensin di sekitar wilayah Pamulang. Untung saja mobil tersebut mogok tepat di depan SPBU. Maka saya dan supir saya pun mencoba untuk mendorongnya. Hanya saja karena mobil pick-up itu dipenuhi oleh tabung gas maka tenaga kami berdua tidaklah cukup. Mobil tetap tidak bergeming. Sekitar 20 meter dari tempat saya, terdapat lima anak Punk yang sedang memperhatikan saya. Sayangnya mereka hanya diam saja. Hingga salah satu petugas SPBU ikut membantu kami untuk mendorong. Dengan bantuan petugas tersebut maka mobil ini bisa didorong hingga sampai di tempat pengisisan bensin.
Setelah saya mengisi bensin, maka mobil pun sudah bisa menyala kembali. Lalu mobil segera meluncur keluar dari SPBU. Tepat di depan pintu keluar SPBU anak-anak Punk yang tadi memperhatikan kami menyetop mobil untuk meminta tumpangan. Maka mobil pun berhenti.
“Bang!!!Numpang ya Bang!!!”, celetuk salah satu anak Punk.
”Lo emang pada mau kemana?”, saya pun bertanya kepada mereka.
“Kemana aja Bang. Yang penting ikut....”, yang lainnya ikut menjawab
“Yah elu..tadi mobil gw mogok lo pada kagak mau bantuin dorong. Sekarang mobil udah jalan lo pada mau ikut nebeng. Gimana sih?”, saya pun bertanya sambil memendam perasaan agak sebal.
“Hehehehe....”, mereka hanya tertawa. Tetapi mereka tetap naik ke bak mobil. Saya pun tidak terlau keberatan dengan memberi mereka tumpangan. Karena saya juga sering menumpang mobil bak sewaktu kecil.
Di tengah jalan mereka bernyanyi bersama-sama. Kebetulan beberapa dari mereka membawa alat musik seperti gitar dan gendang. Mungkin untuk mengusir jenuh karena jalan cukup macet di ujung Pondok Cabe. Seperti biasa, lagu-lagu yang mereka nyanyikan bertema tentang ketidakadilan sosial, menghujat kaum elite serta harapan-harapan mereka akan kondisi yang lebih baik (untuk mereka). Mungkin dengan menyanyikan lagu seperti itu mereka merasa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pada saat mendengar lagu-lagu yang mereka mainkan saya pun tersenyum sinis. Mereka merasa muak dan skeptis dengan kondisi sekarang. Seakan mereka menyuarakan ketidakadilan bagi kaum tertindas. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan, kalau hanya untuk membantu mobil yang mogok saja mereka tidak mau? Bagaimana mereka bisa mengubah dunia menjadi lebih baik? Bagi saya, lagu-lagu yang mereka nyanyikan hanyalah kata-kata yang keluar dari mulut semata. Tidak mempunyai makna. Karena kata-kata mereka tidaklah diamalkan. Tidak ada bedanya dengan para politikus yang mengumbar janji-janji palsu, yang mereka hujat habis-habisan dala lirik lagu mereka karena politikus-politikus tersebut mereka anggap tidak peduli terhadap rakyat. Mereka toh juga tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Lalu buat apa mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut? Seharusnya mereka malu.
Setelah mendekati Fatmawati, mobil pun berbelok memasuki Taman Cilandak. Di situ mereka meminta turun.
“Makasih ya Bang!!”, salah satu anak mengucapkan sambil mendekati saya
“Sip..sip....”, saya pun hanya mengangguk-anggukan kepala.
Sebelum mereka pergi saya memanggil salah satu dari mereka, “Oi....oi....sini bentar dah....lain kali kalo ada orang yang mbilnya mogok....bantuin ya....hehehe”. Seketika anak tersebut agak terkejut. Mungkin ia tidak menyangka saya akan berkata seperti itu. ”I....iya..iya...iya....bang.....”, begitu jawabnya. Sementara temannya yang lain berkata, “Makasih banyak bang!!!”, tepat pada saat mobil mulai melaju. Sayapun hanya mengacungkan jempol sebagai tanda balasan.
-Semoga saja masih ada orang yang rela untuk tidak selalu memikirkan dirinya sendiri.-
Kamis, 18 Juni 2009
Kenapa Orang Indonesia Senang Membuang Sampah Sembarangan
Kenapa Orang Indonesia Senang Membuang Sampah Sembarangan?
Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa orang Indonesia sangat susah untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan ini bahkan hampir menjadi budaya yang melekat erat pada kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan hampir tidak adanya tempat umum (public place) yang benar-benar terawat dan bersih. Kalaupun ada yang bersih hal itu biasanya dikarenakan banyaknya petugas kebersihan yang bertugas di tempat tesebut. Hal ini sangatlah berbeda dengan masyarakat Barat atau biasa kta sebut “bule”. Mereka amat peduli dengan kebersihan, bahkan mereka merasa malu apabila membuang sampah di sembarang tempat. Untuk menganalisa perbedaan dalam hal ini, maka coba kita lihat dari segi bahasa.
Di Indonesia sering kita lihat tulisan “buanglah sampah pada tempatnya” untuk menganjurkan agar masyarakat membuang sampah di tempatnya, yaitu tempat sampah. Tetapi sepertinya anjuran tersebut tidaklah berhasil, atau kurang sakti. Mengapa begitu?
Membuang berasal dari kata “buang” yang diberi imbuhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata buang sendiri mempunyai beberapa arti seperti lempar, lepaskan dan keluarkan. Sedangkan kata membuang juga mempunyai beberapa arti, antara lain:
Melepaskan sesuatu (yang tidak berguna lagi) dengan sengaja dari tangan, melemparkan, mencampakkan
Melemparkan sesuatu karena tidak berguna lagi
Menghilangkan, menghapuskan
Menyia-nyiakan sesuatu
Menghukum dengan jalan mengasingkan ke tempat jauh atau terpencil (biasanya untuk para pelaku kejahatan politik)
Apabila kita melihat berbagai pengertian dari kata membuang, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa membuang berarti melepaskan sesuatu yang tidak berguna (dalam kasus ini iala sampah) lagi. Hanya saja tujuan “pembuangan” tersebut tidak dijelaskan. Oleh karena itulah pemerintah memberi tambahan “pada tempatnya” agar masyarakat melepaskan sesuatu yang tidak berguna lagi pada tempat yang telah disediakan (dalam kasus ini tempat sampah).
Tetapi mengapa masyarakat masih saja susah untuk membuang sampah pada tempatnya? Hal itu dikarenakan telah bergesernya definisi kata “buang” itu sendiri. Kata “buang” menjadi berarti melepaskan sesuatu dengan asal. Hal itu dapat dilihat dari berbagai contoh berikut ini
Oleh komentator sepakbola Indonesia,”Langsung dibuang saja bola itu menjauh dari sergapan striker lawan Bung!!!”
Oleh orang yang sedang sebal atau sedang kasmaran ,”Aku selalu membuang muka bila berpapasan dengannya.”
Dari contoh-contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa buang berarti melepaskan sesuatu dengan asal, yang penting menjauh dari objek yang berhubungan.
Hal tersebut sangatlah berbeda dengan masyarakat Barat atau “Bule”. Di luar negeri, anjuran untuk membuang sampah berbunyi “Put the trash.......”. Padahal arti kata “put” itu sendiri berarti meletakkan, menempatkan (menurut kamus lengkap bahasa indonesia inggris). Meletakkan mempunyai arti yang hampir mirip dengan menaruh. Sedangkan menaruh itu sendiri mempunyai arti (menurut KBBI) :
Meletakkan, menempatkan
Mencantumkan atau menentukan
Memasang taruhan
Menitipkan
Mempunyai
Mengandung perasaan
Untuk kata “meletakkan” dan “menaruh”, masyarakat Indonesia mempunyai persepsi bahwa kata tersebut biasanya dipakai untuk menaruh suatu benda dengan teratur atau ada tujuannya, sehingga tempat untuk menaruh benda tersebut sudah jelas. Bahkan dalam sepakbola, “placing” biasa mempunyai arti dengan menaruh bola dengan tujuan yang jelas atau teratur. Arti ini sungguh berbeda dengan “buang” yang mempunyai arti “throw away”. Throw sendiri dalam “English Dictionary and Thesaurus” mempunyai arti put abruptly,carelessly. Hal yang kurang lebih berarti menaruh sesuatu dengan kurang berhati-hati. Dapatkah Anda lihat perbedaan antara “Buanglah sampah pada tempatnya” dengan “Put the trash.......” dengan menggunakan persepsi masyarakat Indonesia sekarang ini?
Hal itulah yang menjadi salah kaprah (suatu hal yang biasa terjadi) dalam penggunaan bahasa Indonesia. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang membuang sampah sembarangan. Mungkin ada baiknya apabila anjuran “Buanglah sampah pada tempatnya” diganti dengan “Letakkanlah sampah pada tempatnya”. Mungkin hal itu akan menyebabkan masyarakat tersadar, bahwa sampah haruslah diletakkan di tempat yang benar dan sampah itu bukanlah tidak berguna. Karena dengan banyakanya program daur ulang, samaph bisa dioah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Oleh karena itu budayakanlah buang atau letakkan (terserah tersepsi Anda) sampah pada tempatnya. Semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi!!!!
Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa orang Indonesia sangat susah untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan ini bahkan hampir menjadi budaya yang melekat erat pada kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan hampir tidak adanya tempat umum (public place) yang benar-benar terawat dan bersih. Kalaupun ada yang bersih hal itu biasanya dikarenakan banyaknya petugas kebersihan yang bertugas di tempat tesebut. Hal ini sangatlah berbeda dengan masyarakat Barat atau biasa kta sebut “bule”. Mereka amat peduli dengan kebersihan, bahkan mereka merasa malu apabila membuang sampah di sembarang tempat. Untuk menganalisa perbedaan dalam hal ini, maka coba kita lihat dari segi bahasa.
Di Indonesia sering kita lihat tulisan “buanglah sampah pada tempatnya” untuk menganjurkan agar masyarakat membuang sampah di tempatnya, yaitu tempat sampah. Tetapi sepertinya anjuran tersebut tidaklah berhasil, atau kurang sakti. Mengapa begitu?
Membuang berasal dari kata “buang” yang diberi imbuhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata buang sendiri mempunyai beberapa arti seperti lempar, lepaskan dan keluarkan. Sedangkan kata membuang juga mempunyai beberapa arti, antara lain:
Melepaskan sesuatu (yang tidak berguna lagi) dengan sengaja dari tangan, melemparkan, mencampakkan
Melemparkan sesuatu karena tidak berguna lagi
Menghilangkan, menghapuskan
Menyia-nyiakan sesuatu
Menghukum dengan jalan mengasingkan ke tempat jauh atau terpencil (biasanya untuk para pelaku kejahatan politik)
Apabila kita melihat berbagai pengertian dari kata membuang, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa membuang berarti melepaskan sesuatu yang tidak berguna (dalam kasus ini iala sampah) lagi. Hanya saja tujuan “pembuangan” tersebut tidak dijelaskan. Oleh karena itulah pemerintah memberi tambahan “pada tempatnya” agar masyarakat melepaskan sesuatu yang tidak berguna lagi pada tempat yang telah disediakan (dalam kasus ini tempat sampah).
Tetapi mengapa masyarakat masih saja susah untuk membuang sampah pada tempatnya? Hal itu dikarenakan telah bergesernya definisi kata “buang” itu sendiri. Kata “buang” menjadi berarti melepaskan sesuatu dengan asal. Hal itu dapat dilihat dari berbagai contoh berikut ini
Oleh komentator sepakbola Indonesia,”Langsung dibuang saja bola itu menjauh dari sergapan striker lawan Bung!!!”
Oleh orang yang sedang sebal atau sedang kasmaran ,”Aku selalu membuang muka bila berpapasan dengannya.”
Dari contoh-contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa buang berarti melepaskan sesuatu dengan asal, yang penting menjauh dari objek yang berhubungan.
Hal tersebut sangatlah berbeda dengan masyarakat Barat atau “Bule”. Di luar negeri, anjuran untuk membuang sampah berbunyi “Put the trash.......”. Padahal arti kata “put” itu sendiri berarti meletakkan, menempatkan (menurut kamus lengkap bahasa indonesia inggris). Meletakkan mempunyai arti yang hampir mirip dengan menaruh. Sedangkan menaruh itu sendiri mempunyai arti (menurut KBBI) :
Meletakkan, menempatkan
Mencantumkan atau menentukan
Memasang taruhan
Menitipkan
Mempunyai
Mengandung perasaan
Untuk kata “meletakkan” dan “menaruh”, masyarakat Indonesia mempunyai persepsi bahwa kata tersebut biasanya dipakai untuk menaruh suatu benda dengan teratur atau ada tujuannya, sehingga tempat untuk menaruh benda tersebut sudah jelas. Bahkan dalam sepakbola, “placing” biasa mempunyai arti dengan menaruh bola dengan tujuan yang jelas atau teratur. Arti ini sungguh berbeda dengan “buang” yang mempunyai arti “throw away”. Throw sendiri dalam “English Dictionary and Thesaurus” mempunyai arti put abruptly,carelessly. Hal yang kurang lebih berarti menaruh sesuatu dengan kurang berhati-hati. Dapatkah Anda lihat perbedaan antara “Buanglah sampah pada tempatnya” dengan “Put the trash.......” dengan menggunakan persepsi masyarakat Indonesia sekarang ini?
Hal itulah yang menjadi salah kaprah (suatu hal yang biasa terjadi) dalam penggunaan bahasa Indonesia. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang membuang sampah sembarangan. Mungkin ada baiknya apabila anjuran “Buanglah sampah pada tempatnya” diganti dengan “Letakkanlah sampah pada tempatnya”. Mungkin hal itu akan menyebabkan masyarakat tersadar, bahwa sampah haruslah diletakkan di tempat yang benar dan sampah itu bukanlah tidak berguna. Karena dengan banyakanya program daur ulang, samaph bisa dioah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Oleh karena itu budayakanlah buang atau letakkan (terserah tersepsi Anda) sampah pada tempatnya. Semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)